Tuesday, April 17, 2012



Salah satu bangunan di Museum Kartika Affandi. Museum yang terletak di Sleman ini dikelilingi sawah dan kebun salak warga. .
Sketsa digambar tanggal 19 Februari 2012 dengan media sketchbook A4 dan drawingpen 02

objek d sekitar Malioboro Jogja



Lor Pasar Bringharjo, bagian tertua di Pecinan Ketandan. Dulu, atas ijin Sri Sultan HB II komunitas Tionghoa menetap di utara pasar Bringharjo. Keuletan mereka dalam berdagang diharapkan dapat mendorong aktivitas pasar Bringharjo yang merupakan pusat kegiatan ekonomi pada masa itu. Dan kini, jalan Lor Pasar ini benar2 padat, pedagang kaki lima yang berjualan emas, barang jadul, uang kuno ikut menambah hiruk pikuk di sepanjang jalan ini. Karena aktivitasnya yang selalu ramai dan aksesnya yang sulit dilalui kendaraan bermotor, rumah toko pecinan di sini hanya sedikit mengalami renovasi sehingga masih banyak yang asli.
Sketsa ini dibuat saat Sharing & Sketching bareng komunitas IS Jogja tanggal 18 Maret 2012. Media gambar: kertas A4, tinta cina, bambu, drawing pen 02. (bambunya bujel, jadi untuk garis tipis pake drawingpen)

Friday, January 13, 2012

kampung naga, tasikmalaya

Fotonya dulu aja deh, critanya nyusul...

















tamanpintar



Objek ini berada di salah satu spot taman pintar yang lumayan sepi. Ya, waktu itu saya lagi males ngeliat anak kecil lari-larian, walhasil citra taman pintar yang identik dengan tawa ria anak-anak tidak muncul dalam gambar ini.
Gambar ini dibuat pertengahan November 2011 bareng komunitas Jogja Sketcher. Medianya sketchbook a3, drawing pen 0.2, dan prisma color.

kampung naga, tasikmalaya



Digambar waktu study trip di kampung naga pertengahan tahun 2010 bareng mahasiswa arsitektur angkatan 2009.
Medianya sketchbook a3 yang tentu saja tidak digambari full page, dan pensil (lupa pensil kayu apa mekanik).
Posisi saya waktu nggambar adalah di teras. Sumpah, ini tempat enak banget buat nongkrong. Sebenernya waktu itu saya gak dapet tugas nggambar, tapi suasananya yang enak, rileks, dan pemandangannya yang juga asik, jadi bikin penggen nggambar. Ketiga gambar itu saya bikin tanpa pindah dari spot PW saya. Jadi saya cuma muter2 badan aja, trus bikin gambar selanjutnya.

sketsa kampung code jogja



Digambar tanggal 18 Desember 2012 bareng komunitas Jogja Sketcher.
Pake sketchbook a4 dan drawing pen 0.2


Wednesday, December 21, 2011

Seberapa Indonesiakah saya?

Selama perjalanan 11 hari ini, saya dan Nadia…

- satu kali dikira orang Khmer,

- satu kali dikira orang Cina,

- satu kali dikira orang Thailand,

- NOL kali dikira orang Indonesia, dan

- seribu tiga ratus delapan puluh enam kali dikira orang Malaysia.

Ya, yang terakhir itu memang mengada-ada, tapi itulah angka yang terlintas di otak saya saking seringnya kami dikira orang Malaysia. Wujud kami yang berwajah pribumi plus berkerudung memang lebih rawan disangka cewek Malaysia ketimbang cewek Indonesia yang heterogen. Tapi kalo keseringan dikirain orang Malaysia lama-lama jengah juga. Pernah pada suatu pagi di Ho Chi Minh City, saya dan Nadia yang waktu itu lagi asik jalan-jalan (kaki) tiba-tiba disamperin sama tukang becak. Kami udah jelas-jelas nolak tapi dia tetep aja nawarin sambil terus aja ngintilin. “Where are you from? Are you from Malaysia?”, tanya bapaknya. “No, we’r from Indonesia” jawab saya. “Oh! Malaysia played football very well on AFF yesterday.”. Lah, piye to bapaknya, udah dibilang Indonesia, masih dikira Malaysia, pake bawa-bawa pertandingan yang bikin sakit ati itu lagi. Langsung saya jawab dengan jelas bin mantep “Indonesia, sir…Indooonesia”. Bapaknya langsung ber ‘ohh’ ria. “Oh…Indonesia played well too” katanya sambil ngeliatin jempol. Ah, basi, pak. Saya langsung ngacir nyusulin Nadia yang emang udah cuek dan ngelanjutin jalan dari tadi.

Khmer. Ini adalah suku asli orang Kamboja. Bentukannya gak beda-beda amat lah sama orang Indonesia. Rada sipit dikit dan lebih item banyak, tapi gak sampe negro. Sipitnya pun gak lebih sipit dari orang Palembang. Walaupun gak semuanya item, pokoknya senangkep saya waktu itu, kulit mereka rada gelap, entah karena efek cuaca yang saat itu panas, kering dan berdebu atau memang dari sononya. Waktu saya lagi nunggu Nadia yang lagi manjatin salah satu candi di Angkor Wat, tiba-tiba ada guide lokal yang nyeletuk “Are you Khmer? You look like Khmer.”. “Hah!?!” sahut saya setengah gak percaya setengah gak trima, lha saya terlanjur mengklaim mereka itu item, gak taunya saya dikira mirip mereka. “Why? You don’t like Khmer” tanya si guide waktu ngeliat saya kaget. “Eh, no, no….I like Khmer,,,I like, he he…” kata saya sambil rada cengengesan trus buru-buru pergi. Aneh, kalo saya dikira orang Khmer, kenapa dia ngajak ngomong pake bahasa Inggris, apa dia bukan guide lokal, ya? Ah, entahlah…

Dikira orang Cina? Hah, kalo itu saya dan Nadia juga bingung. Kok bisa?! Pertama, kulit kami gak ada putih-putihnya. Yang ada juga gosong hasil ngiterin Angkor Wat seharian. Kedua, mata kami gak sipit, apalagi mata saya yang ukuran normalnya aja lebih gede dari mata orang cina yang dipaksa melek. Ketiga, kami gak pake hot pants! Ok, yang terakhir ini memang cara mengindikasi suatu etnis hasil analisa bodoh saya yang tentu saja sangatlah tidak valid. Apapunlah itu, kami gak punya modal untuk dikira orang Cina. Penasaran, kami pun bertanya ke masnya yang nyagka kami orang Cina. Jawabannya sukses membuat kami melongo beberapa detik. Katanya, alasannya adalah karena kami berdua pake kacamata. He!?!? Sejak kapan kacamata bisa menjurus pada negara tertentu? Ini sih sama gak validnya sama teori hotpants tadi. Hedeeh… -.-’’

Thailand itu meski mayoritas penduduknya menganut agama Budha, perempuan Muslim berjilbab ternyata adalah pemandangan yang sangat umum. Gaya jilbabnya pun gak beda jauh-jauh amat sama di Indonesia, sehingga saya dan Nadia pernah sekali dikira orang Thailand. Waktu itu kami lagi jalan di sebuah gang padat penduduk di kota Bangkok tanpa backpack. Tiba-tiba ada bapak-bapak ngajak ngomong dengan bahasa Tagalog. Duh gak ngerti dah ngomong apa. “Ha?” tanya saya dengan muka bingung. Dan si bapak kembali melanjutkan ngomong dengan bahasa yang sama. Waduh, saya langsung mengeluarkan jari telunjuk, mengarahkannya ke muka, pasang senyum, trus bilang “Indonesia, hehe”.

Saya pernah sekali ketemu dengan seorang ibu-ibu dari Indonesia yang saya pun sama sekali tidak mengira kalo dia senegara sama saya. Waktu itu TKPnya di Angkor Wat. Dia datang sama suaminya yang berbadan agak gendut, berkulit putih, bermata sipit, dan berkewarnegaraan Malaysia. Awalnya si suaminya ini yang ngajak ngomong saya dan Nadia. Seperti beberapa kejadian sebelumnya, kami lagi-lagi dapet pertanyaan “Are you from Malaysia?”. Setelah mengetahui kami ini dari Indonesia, si bapak ini langsung menyahut “Wah, istri saya dari Indonesia juga”. Kemudian, menengoklah kami ke sosok wanita di sebelahnya. Seorang ibu-ibu berperawakan kecil, pake topi pantai, pake (sebelumnya maafkan ke-cupu-an saya dalam hal fashion, saya gak tau baju ini disebutnya apa) baju semacam daster tanpa lengan, tapi jangan dibayangkan daster gobrong-gobrong buat tidur, yang pasti ini baju yang cukup yahud buat ke mall (bukan buat ngiter-ngiter candi yang puanasnya ampun-ampun). Make-up nya juga ON banget, sampe pake bulu mata palsu segala. Wuih, saya sama Nadia kaget. Kaget sama bulu matanya dan kaget karena akhirnya di antara buanyaknya orang dari berbagai penjuru dunia yang dateng ke Angkor Wat, ketemu juga sama orang Indonesia.

Anyway, tidak perlu kecewa jika tidak pernah ada yang benar menebak kewaganearaan Anda, toh orang Indonesia itu memang bener-bener heterogen kok. Bahkan kita sendiri pun dalam kehidupan sehari-hari pernah salah tebak asal suku seseorang hanya dari melihat penampilannya kan?